Selasa, 03 November 2009

SEKOLAH SEBAGAI SUMBER KENDALA DALAM PENGEMBANGAN KREATIFITAS ANAK


Mengapa kita-atau siswa- sangat sulit untuk bertindak kreatif? Dalam kenyataannya, seseorang sering menghadapi kendala dalam mengembangkan kreatifitasnya. Dari beberapa sumber kendala tersebut salah satu diantaranya adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari oleh guru atau sekolah, sering kita temui beberapa tindakan guru yang bermaksud untuk mengembangkan kreatifitas, namun tindakan yang dilakukan justru membunuh kreatifitas itu sendiri. Misalnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa angka-angka ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
PYGMALION EFFECT
Ketika guru masuk ke dalam kelas, sebenarnya guru telah membawa sebuah sikap yang ditentukan oleh harapan guru tersebut kepada siswanya. Bila guru akan masuk ke dalam kelas yang sebagian besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, maka guru cenderung bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula terhadap anak-anaknya. Sementara ketika akan masuk ke dalam kelas yang mayoritas siswanya terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata maka guru pun akan cenderung memiliki harapan yang rendah. Sikap dan harapan ini akan berdampak pada “semangat” dan sikap guru dalam mengajar anaksiswanya.
Dalam istilah motvasi kita mengenal istilah Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Namun sebaliknya, bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya.
Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan bathin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian secara sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada semua siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.

METODE HAPALAN
Sampai saat ini, proses kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih menekankan pada hasil ketimbang proses. Hal ini tentunya bukan hanya masalah guru namun juga sistem pendidikan Indonesia secara umum yang memang menekankan hasil berupa angka ketimbang pemahaman dan kemampuan siswa dalam memaknai ilmu dan informasi yang diperolehnya. Metode seperti ini, dalam metode pendidikan disebut sebagai “metode menghapal mekanis”.
Metode ini termasuk metode yang sering dipakai dalam sistem pendidikan tradisional yang mengharapkan supaya pendidikan “back to basic” untuk memberikan ilmu dasar sebagai landasan kuat bagi siswa untuk masuk kedalam masyarakat. Pandangan ini bisa menjadi benar ketika kita berpikir bahwa pendidikan tidak ada gunanya jika tidak berdasarkan pembelajaran bahan pengetahuan dasar. Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa menumpuknya ilmu dalam benak siswa belum tentu akan mampu dieksplor atau dimanfaatkan oleh siswa ketika mereka berhadapan dengan masalah sebenarnya dalam hidup, bahkan bisa jadi masalah apabila proses penumpukan ilmu itu pun dilakukan hanya sebatas ingatan semata. Kreatifitas tidak akan muncul melalui pengumpulan ilmu dan teori namun harus dilatih melalui sebuah proses panjang sampai siswa bisa merasakan sendiri dari manfaat ilmu yang dipelajarinya.
Namun dalam perkembangannya, ditengah-tengah masyarakat muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal mekanis kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.

TEKANAN TEMAN SEBAYA
Dalam pertemanan, siswa memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar menghapal sebuah teori atau memahami sebuah rumus. Hampir tidak ada materi pelajaran di kelas yang bisa membekali siswa untuk bisa memahami apa yang mereka alami di lingkungannya. Berbagai macam masalah dan konflik dan permasalahan mengalir begitu deras dalam pergaulan mereka sehari-hari. Berbagai macam karakter guru dan teman terpampang jelas dan menantang di depan wajah mereka.
Lantas dimana guru berperan?
Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tekanan itu sangat berdampak dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi bila tidak berhasil di”manage” secara bijak.
Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan. Guru hanya membantu dalam proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya.
Proses penyadaran ini diharapkan melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang membutuhkan kesabaran semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.

MENYIKAPI KEGAGALAN
Kegagalan adalah sebuah kenyataan yang sering dialami oleh setiap orang, termasuk Edison sekalipun. Namun yang menjadi pembeda dengan kita, Thomas Alfa Edison menganggap bahwa setiap kegagalannya adalah sebagai sebuah hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Bagi Edison, kegagalan adalah cara dia menemukan sesuatu yang belum benar. Bukan sebagai akhir dari sebuah proses.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang.
Memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut. Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidakmampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha.
Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya karena menganggap, tujuan apapun akan gagal karena dirinya tidak mampu.

RASA BOSAN YANG MEMUNCAK
Kita menganal Thomas alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu belajar dengan baik disekolahnya. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas oleh gurunya dan dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga dengan Charles Darwin yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik pohon dan mengamati makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas mendengarkan guru yang sedang mengajar. Contoh-contoh didepan merupakan beberapa contoh bagaimana sekolah kurang mampu mengakomodasi berbagai macam bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya.
Sekolah sering terjebak pada sebuah anggapan bahwa semua siswa memiliki potensi, bakat , gaya belajar dan tingkat kepandaian yang sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani dengan metode yang seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak merasa jenuh dan terhambat kreatifitasnya.
Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.

Semoga tulisan ini sedikitnya mampu memberikan wawasan bagi guru dan sekolah untuk menghindari berbagai macam hal yang dapat menghambat bahkan mematikan kreatifitas siswa di sekolah.

imamwibawamukti@yahoo.co.id
4-11-2009

Minggu, 01 November 2009

BAGAIMANA MENGELOLA KELAS?

Saya sengaja tidak melanjutkan judulnya menjadi bagaimana mengelola kelas menjadi lebih baik, karena pada hakekatnya setiap guru memiliki standar dan cara untuk menentukan apakah kelasnya sudah baik atau tidak. Dan juga saya tidak mau memiliki beban seolah saya bisa menciptakan suasana seperti itu. Karena dalam kenyataannya, semua guru meemukan karakteristik unik dari setiap kelas. Ada satu kelas yang ribut di saat guru tertetu mengajar namun tidak ribut di saat guru yang lain. Ada kelas yang antusias di guru tertentu, tapi kurang antusias saat guru yang lain.
Semoga itu bukan masalah karena kelas juga membawa karakter tertentu. Ada kelas yang didominasi oleh anak-anak “kognitif”, ada kelas yang didominasi anak-anak “psikomotor” atau “afektif”. Dan ada juga kelasnya didominasi oleh anak-anak audio, visual atau motorik. Sehingga gaya mengajar guru satu belum tentu cocok dengan karakter kelas dan justru cocok dengan guru yang lain. Walau begitu, secara garis besar kita bisa membuat indikator umum untuk menilai apakah kita sudah membuat suasana kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar atau belum. Indikator ini bisa kita susun menurut pengalaman kita sehingga bisa jadi ada beberapa indikator yang sama dengan guru lain dan indikator yang berbeda bisa kita simpan sebagai bahan kajian sendiri.
Beberapa indikator umum tersebut diantaranya:
1. Siswa dapat belajar dengan baik tanpa diganggu oleh kurangnya informasi atau ketidaktahuan mereka akan tugas di saat belajar.
2. Waktu belajar dapat digunakan secara maksimal untuk proses belajar tanpa diganggu oleh fasilitas yang belum dipersiapkan atau kegiatan yang tidak menunjang pembelajaran.
3. Guru secara maksimal dapat mengotimalkan sarana dan potensi yang ada dikelas (siswa atau media) untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Jadi, bila ketiga unsur ini terpenuhi, maka secara umum guru telah mampu mengelola kelas dengan baik. Masalah yang muncul di kelas bisa sangat kasuistis, dimana guru mungkin akan mendapatkan siswa yang ribut, mengantuk atau tidak mengerjakan tugas. Namun hal tersebut tentunya bisa ditangani guru dengan baik berdasarkan pengalaman dan ilmu yang telah diperoleh.
Saya kurang tertarik untuk membahas kasus perkasus masalah yang senantiasa muncul di kelas. Hal ini disebabkan hal-hal tersebut menjadi wewenang guru untuk menanganinya. Tidak ada hak seorang guru untuk membicarakan atau menanggapi trik, cara atau strategi yang dipakai guru dalam mengelola kelas selama itu pada tataran teknis. Namun bila ada kesalahan yang sudah prinsip maka semua pihak berkewajiban untuk saling mengingatkan. Misalnya ada guru yang melakukan kekerasan fisik terhadap siswa, maka itu sudah menyentuh pada tataran filosofis pendidikan dan etika profesi. Tidak ada pembenaran untuk kekerasa fisik maupun psikis untuk mendidik siswa. Maka guru berhak dan berkewajiban untuk mengingatkannya.

Apa itu pengelolaan kelas?
Berbicara kelas, ada beberapa pandangan tentang konsep tentang kelas. Ada yang memandang kelas sebagai ruangan yang disekat oleh empat dinding dan berisi media pembelajaran. Pandangan ini disebut sebagai aspek statis, dimana kelas dipandang sebagai sesuatu yang tetap dan tidak berubah. Dalam pandangan ini pula, kelas bisa direkayasa secara pasti untuk menunjang situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.
Konsep kedua tentang kelas, ada yang memandang kelas dalam pengertian dinamis. Kelas dipandang sebagai suatu komunitas kecil di sekolah yang menjadi kesatuan organis yang memiliki unit kerja secara dinamis dengan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai tujuan bersama.
Dari kedua konsep tersebut, maka kita sebagai guru�����tut untuk mampu mengelola kelas dari aspek fisik dan aspek psikis. Berapa banyak guru yang setelah sekian lama tidak pernah mengganti gambar di dinding kelas? Atau banyak sekolah yang sudah tidak mengganti warna cat kelas dengan yang sudah kusam? Lantas bagaimana anak bisa betah di kelas seperti itu? Jangankan untuk menerima materi, untuk sekedar nyaman saja duduk di kelas, mereka sulit melakukannya.
Untuk itu maka, guru diharapkan untuk mampu menciptakan suasana yang menyenangkan, menggairahkan dan menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak dengan situasi kelas yang ada. Rubahlah gambar dengan yang lebih baru, cat kelas yang cerah atau tulisan-tulisan yang mampu memberikan semangat.
Untuk pengertian kedua, guru harus memperhatikan aspek siswa sebagai subjek pembelajaran. Bila guru terlalu fokus kepada kelas sebagai fisik, maka guru akan cenderung memperlakukan anak juga sebagai benda mati yang hanya bertindak sebagai objek pembelajaran. Siswa dianggap sebagai gelas yang hanya bertugas untuk belajar dan menyelesaikan tugas semata. Dan ini yang sering menimbulkan masalah.
Adapun pengertian pengelolaan biasanya identik dengan manajemen. Guru adalah manajer, manajer kelas yang bertugas menjalankan tugas pokok manajemen kelas. Manajemen mengandung 4 kegiatan pokok yaitu Planning (merencanakan), Organizing (mengelola), Actuating (menggerakkan), Controlling (pengawasan).
Dari pengertian diatas, kita bisa menyimpulkan pengelolaan kelas sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.

Beberapa pendekatan dalam pengelolaan kelas
Dalam keseharian, guru dihadapkan pada masalah umum dalam pengelolaan kelas. Masalah tersebut adalah adanya beberapa siswa yang tidak ikut terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya ngobrol, melamun, diam bahkan tertidur. Masalah ini menunjukkan bahwa siswa belum siap untuk menerima materi dan guru belum berhasil mengkondisikan kelas dan siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Untuk itu, guru harus berusaha untuk menciptakan sebuah harmoni rasa antara siswa dan guru. Guru tidak bisa hanya karena alasan waktu, lantas melupakan tahapan apersepsi. Tahap apersepsi ini berfungsi untuk menyelaraskan kesiapan guru untuk mengajar dan siswa untuk menerima materi baru. Ada guru yang begitu masuk kelas langsung menyuruh siswanya untuk membuka buku, mengeluarkan tugas atau langsung menerangkan materi, tanpa memperhatikan kesiapan siswa untuk menerima materi baru. Pikiran dan hati mereka bisa jadi masih tertambat pada pelajaran atau peristiwa sebelumnya.
Apersepsi bisa berisi kegiatan menanyakan materi jam pelajaran sebelumnya, menanyakan materi pertemuan terakhir, memeriksa kelengkapan attribut atau sekedar bertanya tentang kesan mereka hari itu. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, secara perlahan guru harus mampu membawa pikiran dan rasa mereka untuk memasuki materi inti dengan segala aktivitasnya.
Keterampilan guru dalam apersepsi sangat menentukan kegiatan pembelajaran berikutnya. Bahkan ada pemeo mengatakan bahwa apa yang anda lakukan 5 menit pertama akan menentukan menit-menit berikutnya. Namun saya bukan ahlinya dalam membuat atau merancang apa yang harus dilakukan dalam 5 menit pertama tersebut, sehingga sangat sulit membuat standar baku untuk kegiatan ini.
Secara garis besar, apapun yang dilakukan di 5 menit pertama haruslah bersifat persuasif, mengajak mereka masuk ke dalam kegiatan baru secara alamiah. Tanpa rasa takut, segan, enggan dan malas. Mungkin ada siswa yang jangankan mengikuti pelajaran, untuk menanti detik demi detik menunggu kedatangan guru saja sudah merupakan siksaan bathin, apalagi dengan setumpuk tugas dan materi yang harus diterima di menit-menit berikutnya.
Ini bukan tentang karakter guru! Ini bukan tentang longgarnya menerapkan disiplin, karena karakter guru dan disiplin tidak harus dalam suasana yang mencekam. Suasana mencekam ini sebenarnya masalah kesan yang memang diciptakan sendiri oleh guru karena masalah pendekatan. Pendekatan yang dilakukan guru sebenarnya tidak dilatarbelakangi oleh karakter guru atau kedisiplinan.
Guru yang merasa memiliki karakter keras, judes dan tidak suka basa basi bukan berarti tidak bisa menciptakan suasana yang menyenangkan. Karena alasan itulah kita belajar di fakultas keguruan dan pendidikan.
Beberapa pendekatan dalam pengelolaan kelas:

1. Pendekatan kebebasan
Pendekatan ini dilandasi oleh paradigma kepercayaan, artinya guru mempercayai siswa untuk menjadi subyek dan obyek pembelajaran secara mandiri. Pendekatan ini dilandasi oleh pemahaman guru sebagai fasilitator dan mediator proses kegiatan belajar mengajar.
Melalui pendekatan ini, guru memberi ruang lebih besar kepada siswa untuk menggali pengetahuannya dan kemudian disusun menjadi ilmu yang bisa berguna bagi kehidupan mereka. Pemberian kesempatan yang besar ini membuka terjadinya fleksibilitas dalam penggunaan metode, strategi dan alokasi waktu.
Namun terlepas dari beberapa konsekuensi diatas yang harus diantisipasi guru, pendekatan ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi siswa untuk bisa saling memahami, menghormati dan menghargai proses belajar ketimbang hasil.
Namun jangan disalahpahami! Ini adalah pendekatan, bukan pemberian kebebasan dimana anak bisa bebas untuk bertindak yang tidak berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Guru harus bertindak sebagai fasilitator bagi terciptanya kondisi yang kondusif bagi terlaksananya kegiatan belajar mengajar.
Contextual Teaching and learning merupakan salah satu latihan yang sangat cocok bagi guru yang melakukan pendekatan ini karena metode-metode yang ada dalam CTL umumnya berpegang pada pendekatan ini.

2. Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini menekankan pada proses pembelajaran sebagai sebuah proses transfer ilmu dan pengetahun dari subyek kepada obyek. Pendekatan ini biasanya dilakukan pada awal pembelajaran atau pembahasan materi baru dimana guru memberikan gambaran tentang subjek yang akan dipelajari dan dibagian akhir ketika guru menjadi mediator bagi siswa dalam memaknai informasi yang telah diperoleh.
Pendekatan ini juga dilalkukan bila guru mempersiapkan siswanya untuk menghadapi ujian yang bersifat hapalan dan ingatan. Pendekatan ini memiliki kelebihan dalam merencanakan alokasi waktu, metode dan sarana yang akan disiapkan dalam pembelajaran.
Pada umumnya, guru lebih memilih metode ini dengan anggapan lebih efektif dan efisien. Waktu yang dibutuhkan tidak banyak dan hasil yang diperoleh bisa maksimal. Padahal, waktu dan hasil sangat tergantung pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai, bukan masalah cepat atau lambatnya mteri tersampaikan atau pada tinggi rendahnya nilai yan diperoleh.

3. Pendekatan behavior
Metode ini dapat diartikan sebagai sebuah proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik. Pendekatan ini didasari pada asumsi:
1. Tingkah laku baik dan buruk merupakan hasil proses pembelajaran dan pembiasaan.
2. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental berupa penguatan positif (positive reinforcement), penghapusan (extinction) dan penguatan negatif (negative reinforcement).
Oleh karena itu, maka guru bertindak sebagai pemberi stimulus bagi lahir dan terbentuknya sebuah kebiasaan-kebiasaan baik bagi siswanya.

4. Pendekatan resep
Siswa menjadi pelaku pembelajaran dengan resep atau skenario yang sudah ditetapkan oleh guru. Pendekatan ini bisa dilakukan oleh guru dengan tujuan supaya siswa tidak melenceng dari tujuan pembelajaran.
Guru membuat petunjuk detail yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan siswa sementara guru hanya mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh siswa.

5. Pendekatan kekuasaan
Pendekatan ini adalah sebuah pola untuk menciptakan sebuah proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Pendekatan ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi terlaksananya proses pembelajaran. Melalui kekuasaan ini guru berusaha untuk menanamkan sikap disiplin, taat aturan dan mampu mengontrol diri mereka ketika melaksanakan proses pembelajaran.

6. Pendekatan ancaman
Siswa berpotensi untuk menganggu proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, namun guru berwenang untuk mengontrol siswa untuk tetap pada garis tujuan yang hendak dicapai. Mengutarakan ancaman di awal pembelajaran menjadi konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan siswa.

7. Pendekatan emosi dan sosial
Belajar akan menjadi maksimal mencapai hasil bila tercipta dalam situasi dan kondisi yang mendukung. Dalam pendekatan ini, siswa dianggap sebagai manusia yang memiliki sisi psikologis klinis dan konselling sebagai bentuk pengakuan akan eksistensinya. Hubungan emosi yang baik antara guru dengan siswa diharapkan akan memberikan dampak ppositif pada kesiapan mereka dalam menerima pembelajaran.

8. Pendekatan elektis dan pluralistik
Siswa pada dasarnya memiliki potensi untuk kreatif dan inovatif sehingga berbagai pola pendekatan yang telah diutarakan diatas sangat mungkin untuk dilaksanakan dalam satu proses pembelajaran.
Guru pun dituntut untuk mampu kreatif memadukan berbagai pendekatan ini bagi terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi guru untuk merancang, mempersiapkan dan menetapkan pendekatan yang paling cocok untuk dilaksanakan di ruangan kelas.

1 Oktober 2009

Minggu, 25 Oktober 2009

BEBERAPA MACAM TINGKAT BERPIKIR

Dalam setiap proses pembelajaran, setiap guru harus menentukan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut harus dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan guru dalam menyampaikan materi dan kemampuan siswa dalam menyerap dan memaknai ilmu yang mereka peroleh.
Guru harus menentukan dan menetapkan tujuan karena tujuan tersebut akan menjadi indikator yang terukur untuk mengetahui keberhasilannya dalam mengajar. Sehingga dalam membuat tujuan, guru memang harus berusaha untuk menentukan secara tepat , baik secara redaksional maupun esensinya. Kesalahan menetapkan tujuan akan berdampak pada kesalahan menetapkan metode dan strategi pembelajaran. Dan akhirnya, jangan heran bila hasil ulangan harian atau ulangan umum hasil siswa yang nampak akan sangat jauh dari tujuan yang hendak dicapai.
Dalam tulisan ini, saya tidak akan berbicara tentang cara menetapkan tujuan pembelajaran. Tulisan ini hanya akan membahas tentang beberapa macam tingkat berpikir siswa yang bisa dilatih secara simultan dan pada akhirnya menjadi salah satu faktor penting bagi guru untuk menetapkan tujuan dan alat test yang tepat untuk siswa. Tidak jarang guru merasa dirinya gagal mengajar karena hasil tes-nya tidak menghasilkan nilai yang sesuai dengan harapan. Atau bisa juga ada guru yang merasa telah selesai menyelesaikan tugasnya karena nilai ulangan siswanya telah mencapai KKM yang ditetapkan.

Sebelum menetapkan tujuan dari suatu kegiatan belajar, guru harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah :
Tingkat kesulitan. Dalam membuat soal tes untuk mengukur tingkat pemahaman siswa, guru bisa melakukan dua hal, pertama membuat soal yang sangat mudah sehingga apabila nilai menjadi alat ukur maka cara ini adalah paling mungkin untuk dilakukan sementara mungkin ada guru yang membuat soal sangat sulit namun bukan karena memperhatikan tingkat berpikir siswa tapi semata hanya untuk membuktikan kepada siswa bahwa untuk mendapatkan nilai baik dari dirinya, maka siswa harus berjuang lebih keras. Selama itu berada pada koridor Standar Kompetensi maka itu bisa dipertimbangkan, namun jika dengan cara memberikan tingkat kesulitan yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa, maka itu adalah sebuah ke-dzolim-an.
Tingkat kemampuan berpikir. Sering guru kurang memahami tingkatan berpikir siswa sehingga dalam menentukan metode, strategi dan tujuan yang hendak dicapai kurang memperhitungkan faktor yang satu ini. ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru ketika ingin memahami tahap berpikir siswa, diantaranya adalah kelompok usia dan tingkat perkembangan psikologis siswa itu sendiri. Namun secara umum, tahapan berpikir siswa akan kita pelajari dalam tulisan kali ini.

TARAF BERPIKIR
Selama ini, kita sebagai guru hanya memperhatikan kemampuan siswa dalam menerima materi. Hal ini sangat nampak pada metode dan strategi pembelajaran yang kemudian diikuti dengan jenis tes yang dilakukan. Metode pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah dengan penugasan berupa PR mengerjakan soal pilihan ganda dan kemudian dilanjutkan dengan soal yang meminta siswa menyebutkan kembali materi yang telah dipelajarinya.
Secara teori, pengetahuan dapat ditinjau dari dua jenis, pertama adalah pengetahuan faktual (factual kowledge) yang berisi beberapa informasi fakta seperti nama tokoh, nama ibukota, sejumlah rumus atau waktu peristiwa tertentu. Kedua, adalah pengetahuan tahapan perilaku seseorang (procedural knowledge), yaitu suatu proses belajar yang mempergunakan tahapan berpikir tertentu. Seorang siswa harus mampu mengingat pengetahuan faktual yang dipelajarinya kemudian menyusunnya kembali untuk menjadikan bahan dalam penyelesaian masalah. Pengetahuan ini hanya akan bisa dikembangkan oleh guru dengan cara menanamkan kemampuan untuk berpikir secara tepat dan berdaya guna untuk memecahkan masalah (Ad.Rooijakkers, Mengajar Dengan Sukses; 1985).
Untuk itu maka guru wajib mengetahui macam tingkat berpikir untuk kemudian melakukan identifikasi ciri dari masing-masing tingkat berpikir dan kemudian melakukan sebuah proses melatih anak untuk mampu berpikir sesuai dengan tingkat berpikir dan perkembangan siswa itu sendiri. Hal penting sekali dipahami guru supaya dalam setiap pembelajaran, guru bisa memaksimalkan kemampuan berpikir siswa sampai pada taraf yang paling tinggi, sehingga ilmu atau fakta yang mereka dapatkan secara parsial atau terpisah dapat dijadikan bahan masukan dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif dan terintegrasi.

Taraf 1: Berpikir reseptif atau menerima (Reseption Learning)
Seorang guru menerangkan bahwa dalam suhu 0 derajat celcius, air akan berubah menjadi es. Pada saat guru menerangkan hal tersebut, siswa akan menerima dan menyerap informasi yang diberikan kepada mereka dan akan mereka ingat kembali bila dievaluasi ada soal yang menanyakan, “pada suhu berapa air akan berubah menjadi es”.
Tingkat berpikir siswa seperti ini disebut sebagai tingkat berpikir reseptif atau menerima informasi. Sifat dari informasi seperti ini adalah materi yang dianggap telah jadi, matang dan dinilai final sehingga tidak merangsang siswa untuk berpikir dan bertanya tentang penyebab hal tersebut bisa terjadi.
Kalaupun ada yang menerangkan tentang alasan atau penyebab air berubah menjadi es ketika berada dalam suhu 0 derajat celcius, maka itu buka merupakan hasil berpikir siswa namun merupakan fakta yang diajarkan oleh guru. Disini guru berperan dominan dan memegang kendali atas proses belajar mengajar dan memegang otoritas kebenaran atas fakta tersebut.
Ada contoh yang cukup menggelikan untuk menerangkan bagaimana posisi guru dalam memegang otoritas kebenaran sebuah ilmu. Ketika seluruh ilmuwan astronomi menetapkan bahwa planet Pluto bukanlah kategori planet seperti yang kita kenal selama ini. Pluto sekarang dianggap benda langit karena lintasannya berbeda dengan kategori planet. Semua dunia sudah mengetahui hal ini, namun ketika saya membaca Koran Pikiran Rakyat, ada seorang wartawan yang menanyakan terhadap seorang guru tentang hal ini dan bagaimana guru tersebut menyikapinya, guru tersebut mengatakan bahwa saat ini dia masih mengajarkan bahwa jumlah planet ada 9 termasuk Pluto karena belum mendapatkan petunjuk dari dinas pendidikan untuk merubahnya. Bayangkan!

Taraf 2 : Komprehensi (comprehensive Learning)
Nama lain dari tingkat berpikir ini adalah concept learning, yaitu kemampuan siswa dalam menggabungkan beberapa fakta yang diketahuinya untuk membentuk sebuah konsep utuh dan terhubung satu sama lainnya. Proses berpikir ini akan melatih siswa untuk mencoba menghubungkan berbagai teori dan fakta yang menjadi sebuah kumpulan teori yang memiliki makna dan bermanfaat bagi dirinya pada saat dibutuhkan.
Tahap berpikir ini sebenarnya bisa dilatih dengan membiasakan siswa untuk membuat catatann dalam bentuk mind mapping dimana catatan ini keluar dari kebiasaan kita pada umumnya. Selama ini kita mencatat dengan konsep outline dimana materi dicatat secara runut ke bawah. Catatan metode ini memang terlihat lebih rapi namun kita sulit untuk menggabungkannya dalam sebuah konsep yang terintegrasi. Catatan outline cenderung membuat kita harus mengingat materi sementara mind mapping menuntut kita untuk menghubungkan materi dari mulai gagasan pokok cabang utama dan ranting.
Metode ini kemudian diikuti oleh metode pembelajaran yang merangsang siswa untuk mempergunakan teori yang diperolehnya dengan memberikan berbagai pertanyaan yang bersifat problematika kehidupan sehari-hari lalu siswa ditugaskan untuk menyelesaikannya menurut teori yang mereka peroleh. Dalam proses ini sangat dimungkinkan untuk ditemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, sehingga guru berfungsi untuk membimbing dan memfasilitasi proses pembelajaran.

Taraf 3 : Aplikasi (Aplication Learning)
Pada tahap ini, siswa harus mampu menerapkan hal yang telah dipelajarinya. Pada taraf ini siswa harus dapat merumuskan kembali sesuatu berdasarkan pengertian yang telah diajarkan. Misalnya setelah mempelajari materi tentang listrik, maka siswa ditugaskan untuk dapat menghasilkan sebuah benda yang berhubungan dengan listrik dan dapat dimanfatkan dalam kehidupan sehari-hari. Atau dalam ilmu sosial misalnya setelah mempelajari penyimpangan sosial, maka siswa mendapatkan tugas untuk melakukan pengamatan melalui media massa tentang beberapa contoh, penyebab dan solusi dari beberapa tindaka penyimpangan sosial.
Pada prinsipnya, dalam tahap berpikir aplikasi, siswa dituntut untuk mampu melakukan sesuatu hal yang berisi membandingkan, menghubungkan, merumuskan dan menggambarkan.

Taraf 4 : Analisa dan Sintesa (Analysis and Synthesis)
Pada taraf ini siswa harus dapat menerangkan hubungan antara berbagai hal yang diajarkan. Hal tersebut dapat dilakukan bila siswa telah diajak berlatih untuk berpikir menganalisa dan menerangkan kaitan-kaitan yang mungkin dari hal yang telah diajarkan dan membuat kombinasi antara unsur-unsur terpisah menjadi satu kesatuan.
Misalnya, bagaimana siswa diterangkan mengenai alasan Jakarta menjadi ibu kota negara Indonesia. Mengapa hal tersebut tidak dilakukan terhadap kota Jayapura. Mengapa kota Jayapura tidak tidak dijadikan ibu kota negara ditinjau dari berbagai aspek seperti sarana komunikasi, transportasi, akses terhadap informasi dan lain sebagainya. Kemudian siswa diharuskan melakukan sintesa dengan menggabungkan hal-hal tersebut sehingga menjadi sebuah kesimpulan mengapa sebuah kota dapat dijadikan ibukota.

Taraf 5 : Evaluasi (Evaluation Learning)
Pada tahap terakhir ini, siswa diajarkan bagaimana berpikir kreatif untuk mencari pemecahan terhadap suatu masalah. Hal penting dalam tahap berpikir ini adalah timbulnya pengetahuan baru yang diperoleh siswa secara mandiri. Misalnya dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, siswa diberikan sebuah masalah seperti bagaimana cara mengatasi maraknya korupsi di Indonesia. Tentunya, untuk menjawab itu, siswa diwajibkan untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti, apa itu korupsi, mengapa korupsi menjadi sebuah tindakan yang dianggap kriminal tingkat tinggi, mengapa orang Indonesia cenderung melakukan tindakan korupsi dan bagaimana mengatasi hal tersebut sampai pada tahap apa tindakan yang harus mulai ditinggalkan karena mendidik siswa untuk cenderung “korupsi”.
Sementara komposisi atau proporsi zona berpikir dan belajar dapat digambarkan sebagai berikut:










Demikian uraian singkat tentang tahap berpikir yang bisa diajarkan oleh guru kepada siswa dengan harapan siswa tidak hanya bertindak sebagai objek dalam kegiatan belajar mengajar, namun juga mampu menjadi subjek dalam kegiatan tersebut dengan menjadikan dirinya sebagai sumber ilmu itu sendiri.

Tentunya, pelatihan tahapan berpikir ini tetap harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan berpikir siswa sesuai usia dan perkembangan psikologis. Hal lain yang harus diperhatikan adalah komposisi perbandingan tahapan berpikir disesuaikan dengan tingkat satuan pendidikan. Sekolah dasar akan didominasi oleh tahap berpikir reseptif sementara pendidikan tinggi akan didominasi oleh tahap berpikir evaluasi.










Masalah selanjutnya adalah, taraf berpikir mana sebaiknya dituntut oleh pengajar. Ini memang tidak mudah dijawab, karena hal itu tergantung dari banyak faktor, antara lain:

1. Pelajaran yang diberikan. Bahan pelajaran tertentu bisa akan lebih menuntut berpikir analisa dibandingkan dengan materi lain.

2. Jenis pendidikan yang diberikan. Misalnya antara sekolah formal dengan kursus akan memiliki komposisi taraf berpikir yang berbeda.

Tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Misalnya tujuan lembaga sekolah yang menekankan pada kemampuan siswa untuk mampu memperoleh nilai ujian yang tinggi akan lebih didominasi oleh taraf berpikir tingkat menerima saja, sementara sekolah yang berorientasi pada kemampuan sikap dan kemandirian akan didominasi oleh taraf yang lebih tinggi.

4. Pihak pengajar yang bersangkutan. Paradigma atau sudut pandang pengajar akan sangat mempengaruhi tujuan kegiatan belajar mengajar. (Ad.Rooijakkers, Mengajar Dengan Sukses; 1985).

Bandung, Oktober 2009


Adsense ads


ShoutMix chat widget

Add your FEED icons here